mandarinlepas cerita silat pendekar matahari 7 / 11. kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju''E book Cerita Silat Karangan KHO PING HOO Copy Scribd April 23rd, 2008 - Namun ini bukan suatu halangan bagi pembaca novel Kho Ping Hoo yang memang sebagian Kalapagi datang, matahari dengan setia menyambut. Memberikan sinar yang cerah bagi seluruh makhluk di dunia. Kala sore akan pergi, dengan lembutnya matahari terbenam, turun hingga tak terlihat. Di kala itu sang bulan dengan setianya menggantikan matahari. Menerangi alam ini yang gelap gulita. CeritaSilat Mandarin Pendekar Matahari Kho Ping Hoo Indonesia Cerita Silat Mandarin Full Cerita Silat Mandarin Online Cerita Silat Jawa Kumpulan. Cerita silat atau disingkat cersil (pinyin: Download cerita silat mandarin dari pengarang / penyadur lain [pdf] 3 minute read. Rahasia ciok kwan im (da sha mo) 3. SerialKho Ping Hoo memiliki 2 jenis cerita, cerita lepas dan berseri. Ini adalah Judul cersil KHO PING HOO : JUDUL LEPAS SILAT MANDARIN, terdiri dari 37 Judul: 1. Antara Dendam dan Asmara (Jilid 1-30) 2. Bayangan Bidadari (Jilid 1-21) 3. Cheng-Hoa-Kiam (Jilid 1-26) 4. Darah Pendekar (Jilid 1-32) 5. Dendam Membara (Jilid 1-4) 6. . Bagaimana sih sejarah kitab bunga matahari itu? Kitab Bunga Matahari sunflower manual adalah salah satu ilmu paling kuat dalam cerita Pendekar Hina Kelana smiling proud wanderer / the swordsman. Kitab ini merupakan kitab ilmu yang diperebutkan oleh dunia persilatan. Biarpun kuat, ternyata ilmu ini memiliki persyaratan yang berat, dimana yang ingin mempelajarinya harus melakukan Pedang Penakluk iblis milik keluarga Lin diciptakan berdasarkan intisari daripada ilmu kitab bunga matahari, dan juga menggunakan pedang sebagai media. Jubah biksu yang tertulis ilmu pedang penakluk iblis ini nantinya dihancurkan oleh Lin Pingzhi setelah dia mempelajarinya, jadi boleh dibilang ilmu dan rekam tulisan cara mempelajari ilmu ini menghilang dari dunia persilatan. Sekte Qingcheng sempat berusaha mempelajari gerakan ilmu luar pedang penakluk iblis ini, karena tidak mengetahui rahasianya, sehingga terkesan tidak hebat. kitab bunga matahari Wuxia Indonesia Indonesian Youth. Pengagum bela diri Indonesia seperti Pencak Silat. All About Cerita Silat; mulai dari Ulasan Sinopsis Serial Drama China Wuxia, Review Film Silat Mandarin, Diskusi Novel cersil, Game, movie, komik Jin Yong, Gu Long, dll. Saat-Saat Terakhir SUNGAI Ci Liwung mengalir tenang. Nyaris tidak ada riak yang membuat perahu kecil itu bergoyang. Ini bukan laut, tentu saja. Dan Jaka Wulung sebenarnya tidak begitu asing dengan sungai karena dia pernah akrab dengan Ci Pamali. Ah, masa kecil yang indah. Tapi, siapa sebenarnya orangtuaku? pikir Jaka Wulung. “Kalau sudah di air, kau selalu jadi pendiam,” kata Ciang Hui Ling. “Mabuk lagi?” Wajahnya tidak lagi pucat seperti ketika muntah-muntah akibat bau kepala babi busuk. Bagi Ciang Hui Ling, tampaknya laut dan sungai justru menjadi obat yang mujarab bagi mual-mual di perutnya. Di buritan perahu kecil yang melaju tenang, Ciang Hui Ling berdiri dengan tangan bersedekap, memandang arah hilir yang tebing-tebing di sisinya ditumbuhi pepohonan dan perdu yang hijau segar. Di sebelah kanannya, Jaka Wulung lebih suka duduk dengan lutut menekuk, dan lebih banyak menunduk. Gadis itu menghirup bau harum hutan pinggir sungai, memenuhi dadanya, mengobati kerinduannya. Beberapa hari saja sebenarnya dia pergi meninggalkan Ci Liwung, tapi serasa sudah berbulan-bulan. Betapa senangnya kembali ke rumah. “Aku lagi menikmati saat-saat ... kebersamaan kita,” sahut Jaka Wulung. Ciang Hui Ling menoleh. Keningnya berkerut. “Bukankah beberapa hari ini kita terus bersama-sama? Tampaknya, ada satu kata yang tidak kau ucapkan, Jaka.” Tentu saja, saat-saat terakhir. Tapi, Jaka Wulung tidak mengucapkannya. “Itu kalimatku secara lengkap,” katanya. Ciang Hui Ling menghela napas dalam-dalam. Beberapa hari dalam kebersamaan, dia belum bisa menyibak misteri yang menyelimuti Jaka Wulung, seorang pendekar belia yang namanya makin ditakuti di kalangan jago-jago silat, dengan julukan yang makin harum, Titisan Bujangga Manik. Siapa sebenarnya dia? Bagaimana isi hatinya? Ciang Hui Ling seakan-akan membentur dinding gelap setiap mencoba menyelami isi hatinya. “Bukankah nanti kita akan punya waktu banyak untuk menikmati kebersamaan?” Tatapan Ciang Hui Ling kembali lurus ke aliran air Ci Liwung. Laju perahu meninggalkan riak gelombang yang sedikit memanjang ke belakang, hampir menyentuh haluan sebuah perahu di belakang mereka. “Kau tentu saja akan kembali ke tempat gurumu, memperdalam ilmumu, sedangkan aku harus pergi meneruskan langkahku,” ucap Jaka Wulung pelan, nyaris seperti berbisik. Ciang Hui Ling tidak langsung menyahut. Meskipun tidak mencolok, perahu di belakang mereka makin lama makin dekat. “Jaka,” mata Ciang Hui Ling tetap memandang ke arah perahu di belakang mereka, “tidakkah kau bisa tinggal beberapa hari di tempat guruku?” “Hmmm ... bisa saja. Tapi, apa bedanya? Setelah beberapa hari itu, aku tetap harus pergi.” “Jelas berbeda. Kebersamaan kita akan lebih lama. Atau, ... tidakkah aku nanti bisa menemanimu bertualang? Ke mana sebenarnya tujuanmu?” Jaka Wulung tidak menjawab. Apa yang bisa dia jawab? Bertualang ke mana-mana dengan seorang gadis cantik, sakti, dan cerdas seperti Ciang Hui Ling, tentu saja akan sangat menyenangkan. Tapi masalahnya, ya, itu tadi, tersurat dalam pertanyaan Ciang Hui Ling, ke mana sebenarnya tujuan dia berkelana? Seorang pangeran kerajaan selalu menjalani tahap berkelana untuk makin mematangkan ilmu dan pengetahuannya sebelum kelak duduk di singgasana. Eyang gurunya, Resi Bujangga Manik, berkelana hingga Pulau Dewata demi menyempurnakan ilmunya untuk akhirnya kembali ke tanah kelahirannya meskipun tidak kembali ke Istana Pakuan, tempat yang sebenarnya berhak dia tinggali. Tapi, ke mana kelak dia akan mengakhiri petualangannya? Perahu di belakang mereka makin mendekat, sedikit berbelok ke kanan, dan tidak lama kemudian, haluannya mulai menjajari buritan perahu di depannya. Dua pendayungnya adalah dua lelaki berpakaian hitam-hitam dengan wajah yang sama-sama dipenuhi bulu. Kelihatannya terus mendayung dengan sekuat tenaga. Dan memang luar biasa tenaga kayuhan mereka karena perahu itu pun sedikit demi sedikit mulai berusaha mendahului perahu yang ditumpangi Jaka Wulung dan Ciang Hui Ling. “Kau mau? Kau mau menemaniku ke mana saja?” Jaka Wulung mendongak memandang Ciang Hui Ling. Akan tetapi, kali ini Ciang Hui Ling seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Jaka Wulung. Wajahnya mengikuti laju perahu yang terus berusaha mendahului perahu yang mereka tumpangi. Ketika kedua perahu itu sudah sejajar, Ciang Hui Ling dengan cepat mengira-ngira jarak di antara kedua perahu itu. Sekitar dua setengah depa. Ciang Hui Ling meloncat ke pinggir perahu, meniti beberapa langkah hingga kira-kira di bagian lambung kanan. Lalu, dengan menggunakan pinggir perahu itu sebagai titik tumpu, dia melenting melintasi arus sungai dan hinggap nyaris tanpa menimbulkan suara dan goyangan di haluan perahu, tepat di hadapan orang-orang berbaju hitam-hitam yang sedang mengayuh. Jaka Wulung merasakan goyangan perahu akibat loncatan Ciang Hui Ling. Tapi, tentu saja bukan itu yang membuatnya berdiri cepat. Jaka Wulung tidak menyadari apa sebenarnya penyebab yang membuat Ciang Hui Ling mengabaikan pertanyaannya, dan malahan meloncat ke perahu di sebelahnya. Tapi, dengan cepat, Jaka Wulung bisa menilai bahwa tentu ada sesuatu yang mencurigakan dari perahu itu. Jaka Wulung harus mengakui, di Ci Liwung, Ciang Hui Ling adalah nona rumah yang memahami seluk-beluk sungai ini sehingga lebih cepat menyadari hal yang mencurigakan. Dengan satu loncatan dari pinggiran perahu, Jaka Wulung juga melenting melalui arus sungai, lalu hinggap tanpa suara di bagian buritan. Kedua pendayung berbaju hitam-hitam dan wajah berbulu itu terkejut melihat bayangan kuning berkelebat, dan tahu-tahu, hinggap di hadapan mereka. Kedua pendayung itu dengan serta-merta menghentikan gerakan mendayung mereka, lalu sama-sama mendongak memandang siapa yang datang. Sinar agak redup matahari yang jatuh tegak lurus mula-mula mengaburkan pandangan mereka, tapi sedikit demi sedikit mereka bisa memandang wajah si pendatang. Seorang gadis muda yang cantik, berkulit kuning cerah dan bermata sipit. Hanya seorang gadis muda. Kedua orang itu sama-sama menarik napas lega, setidaknya secara naluriah setiap lelaki akan senang berjumpa dengan seorang wanita cantik, apalagi seperti yang mereka alami kali ini, mereka seakan-akan mendapat kunjungan seorang bidadari yang tiba-tiba turun dari langit. Kedua orang itu, tentu saja dalam hati, mengakui betapa cepat dan ringannya gerakan si gadis, yang menunjukkan bahwa tingkat ilmunya tergolong tinggi. Tapi, mereka sama-sama yakin bahwa gadis itu bukan merupakan bahaya besar, melainkan akan menjadi selingan dalam perjalanan mereka kali ini. Perahu melambat karena kedua orang itu masih menghentikan kayuhan mereka. Perahu yang sebelah kiri terus melaju, tidak terpengaruh oleh kejadian di sebelahnya. “Apa yang kalian bawa di dalam sana?” tanya Ciang Hui Ling. Matanya tajam memandang kedua orang itu bergantian. Kedua orang itu saling pandang di antara mereka, lalu secara serentak sama-sama tertawa. “Krrrhhh. Apa urusanmu, Nona?” Orang yang di sebelah kanan perahu balik bertanya. Suaranya terdengar aneh, seakan-akan keluar dari mulut yang rongganya dipenuhi dengan bulu-bulu. “Segala kejahatan di sepanjang sungai ini adalah urusanku.” “Krrrhhh. Kejahatan apa yang telah kami lakukan?” “Aku memang belum bisa membuktikannya. Tapi, aku sudah mencium baunya. Bahkan, bau itu sangat tajam.” “Krrrhhh. Jangan mengigau, Nona. Dari mana Nona bisa mencium adanya bau kejahatan di sini? Apakah baunya seperti babi busuk?” Kedua orang itu tertawa lagi. Ciang Hui Ling mendadak mual mendengar kata babi busuk. Rasanya, tercium lagi bau busuk yang tadi membuatnya muntah-muntah di kedai makan. Tapi, dengan cepat, dia membuang ingatan itu. “Benar,” kata Ciang Hui Ling. “Baunya seperti babi busuk.” Kedua orang itu tertawa lebih keras. Tawa mereka pastilah berbau babi busuk. Sreeet! Ciang Hui Ling menghunus pedang dari pinggangnya. Sebilah pedang ramping yang berkilat memantulkan cahaya matahari. Ciang Hui Ling menunjuk kabin kecil di perahu itu dengan ujung pedangnya. “Perlihatkan kepadaku, apa yang kalian bawa!” Kali ini, kedua orang itu sama-sama berdiri. Tapi, tangan mereka masih sama-sama menggenggam dayung perahu. Perahu masih bergerak ke depan, sisa kayuhan terakhir mereka. Tapi, sangat pelan karena memang berlawanan arah dengan arus air. Hanya saja, karena air di situ mengalir sangat pelan, boleh dikatakan perahu pun nyaris diam di tempat. “Krrrhhh. Siapakah Nona sehingga merasa punya hak memerintah kami?” “Sebagai warga tepi Sungai Ci Liwung, aku berkepentingan untuk menjaga daerah ini tetap aman.” Kedua orang berpakaian hitam-hitam itu saling pandang lagi di antara mereka, lalu tertawa berbarengan. Rupanya, mereka sudah terbiasa saling pandang dulu, kemudian tertawa bersama-sama. Semacam ikatan batin yang terjadi karena sudah lama hidup bersama-sama. Ciang Hui Ling geram karena merasa disepelekan. “Harap kalian ketahui, namaku Ciang Hui Ling, murid Tan Bo Huang alias Naga Kuning dari Ci Liwung.” [] KARYA BATARA 1. Kisah Seekor Naga 1-22 2. Pendekar Gurun Neraka 1-20 3. Pendekar Kepala Batu 1-36 4. Pedang Medali Naga 1-35 5. Pendekar Rambut Emas 1-27 lanjutan Pedang Medali Naga 6. Pedang Tiga Dimensi 1-18 Lanjutan Pendekar Rambut Emas 7. Sepasang Cermin Naga 1-16 8. Istana Hantu 1-35 9. Rajawali Merah 1-28 10. Dewi Penjaring Cinta 1-24 11. Golok Maut 1-28 12. Naga Pembunuh 1-32 lanjutan Golok Maut 13. Tapak Tangan Hantu 1-36 14. Rahasia Genta Berdarah 1-24 15. Putri Es 1-37 16. Kisah Empat Pendekar 1,2,3 1-60 17. Dewi Kelabang Hitam 1-27 18. Playboy dari Nan King 1-28 19. Playgirl dari Pak King 1-32 20. Prahara di Gurun Gobi 1-32 21. Kabut di Telaga See Ouw 1-33 22. Mencari Busur Kumala 1-24 23. Naga Merah 1- Kala pagi datang, matahari dengan setia menyambut. Memberikan sinar yang cerah bagi seluruh makhluk di dunia. Kala sore akan pergi, dengan lembutnya matahari terbenam, turun hingga tak terlihat. Di kala itu sang bulan dengan setianya menggantikan matahari. Menerangi alam ini yang gelap gulita. Tak ketinggalan bintang pun setia menemani sang bulan.... memberikan kilaunya yang indah. Puncak gunung Ko-San diselimuti awan. Malam itu tidak cerah. Gumpalan awan hitam terlihat menghalangi cahaya jutaan bintang yang bertebaran di langit. Angin menderu dengan perlahan, sesosok tubuh seorang pemuda yang baru menanjak dewasa terlihat mulai menggigil di tengah embusan angin malam. Pakaian tipis namun bersih yang dikenakannya tidak mampu menghilangkan rasa dingin yang menggigit tulang. Wajahnya yang cukup tampan terlihat pucat pasi dan kesan gagah dari tubuhnya yang tegap sedikit menghilang. Yang cukup mengherankan adalah keberanian pemuda itu mendaki puncak gunung yang terkenal akan lereng-lereng dan jurang yang curam. Para pemburu binatang yang paling ahlipun akan berpikir seribu kali sebelum memutuskan mendaki puncak gunung Ko-San ini, terlebih di malam hari yang kelam seperti ini. Dengan wajah penuh tekad, pemuda itu meneruskan perjalanan panjang menembus kegelapan malam di tengah angin dingin yang menderu kencang. "Semoga peta petunjuk ini benar adanya, kalau tidak sungguh sia-sia aku melakukan perjalanan sejauh ini" batin si pemuda sambil tangannya meraba kantung baju sebelah kiri dan mengeluarkan secarik kain tua dengan hati-hati seolah-olah sangat takut kehilangan kain tersebut. Terbayang ketika ia tanpa sengaja memperoleh peta yang diburu oleh segenap kaum sungai telaga dari seorang pengemis tua yang ditolongnya di tepi hutan belantara di keresidenan Siang-Yang. Pengemis tua itu sudah empas-empis nafasnya ketika ia melewatinya. Didorong rasa kasihan si pemuda merawat pengemis tua itu dengan telaten. Ia merasa kasihan melihat pengemis tua yang tiada sanak saudara, di waktu ajalnya yang sudah mendekat, sendirian dan sakit-sakitan. Sungguh dirinya tak menyangka sama sekali, seorang pengemis tua yang sakit parah dan sebentar lagi meninggalkan dunia yang fana ini, memiliki barang mestika yang diincar kaum persilatan selama puluhan tahun ini. Belum sempat menanyakan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut, pengemis tua tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuan seorang pemuda yang tidak dikenalnya sama sekali namun merelakan satu-satunya barang pusaka yang dimilikinya kepada si pemuda tersebut. Singkat cerita setelah mengubur pengemis tua tersebut, si pemuda yang bernama Sie Han Li, dengan hati yang berdebar-debar membuka kain tua peninggalan pengemis tersebut. Ternyata kain tua tersebut melukiskan suatu pemandangan puncak gunung disertai tulisan-tulisan yang tidak dimengertinya. Kelihatannya huruf-huruf yang tertera di atas kain itu berasal dari luar daratan, mungkin berasal dari negeri Thian-Tok India, duga Sie Han Li. Walaupun sebagai seorang yang baru terjun di dunia kangouw, namun peta kuno yang berisi rahasia ilmu silat peninggalan jenius silat ratusan tahun yang lalu, sudah didengarnya sejak ia baru belajar ilmu silat. Kabarnya siapa yang berhasil mempelajari rahasia ilmu silat "Matahari" peninggalan maha guru tersebut akan menjagoi dunia persilatan, hingga tidak heran peta kuno tersebut dicari-cari kaum persilatan. Sayangnya, hingga puluhan tahun sejak tersiar kabar mengenai peta kuno tersebut, tiada seorangpun yang tahu di tangan siapa peta kuno itu berada. Lambat laun seiring waktu kehebohan itu mereda dan mulai dilupakan orang. Tapi beberapa bulan belakangan ini, pencarian peta kuno tersebut kembali menghangat sejak diterima berita bahwa peta kuno tersebut berada di tangan seorang pendekar tua yang dikenal dengan julukan Pat-ciu-sian-wan Lutung sakti tangan delapan. Pat-ciu-sian-wan sendiri hanya dikenal oleh kaum persilatan sebagai jago silat kelas dua, suka hidup menyendiri tanpa sanak saudara, sering berkelana dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Sejak berita tersebut tersiar ke seluruh penjuru sungai telaga, nama Pat-ciu-sian-wan menjadi bahan pembicaran dan di cari oleh kaum persilatan yang ingin merebut peta kuno tersebut. Kelanjutannya mudah ditebak, pertempuran sengit, bunuh membunuh membuat dunia persilatan yang selama ini tenang kembali bergolak kencang. Selama beberapa bulan belakangan ini, dunia persilatan dilanda kekacauan hebat hanya oleh secarik kain tua berisi rahasia ilmu silat mandraguna. Kembali ke Sie Han Li, menyadari peta tersebut sangat berharga dan bahaya yang mengancamnya apabila sampai diketahui umum bahwa dirinyalah yang berhasil mendapatkan peta kuno tersebut, Sie Han Li segera menyimpan kain kuno tersebut dan hanya ia keluarkan apabila yakin tak ada seorangpun yang melihatnya. Melalui serangkaian usaha yang melelahkan selama beberapa bulan ke depan, akhirnya Sie Han Li mengetahui bahwa pemandangan puncak gunung seperti yang terlukis di peta kuno itu merupakan gambar puncak gunung Ko-San. Penemuan tersebut juga terjadi tanpa disengaja ketika ia memasuki sebuah kedai arak di tengah kota Peking yang megah. Di salah satu dinding kedai arak tersebut tergantung sebuah lukisan pemandangan gunung yang sangat indah. Begitu melihatnya hati Sie Han Li berdesir, gambar puncak pegunungan tersebut sungguh mirip dengan gambar yang tertera di peta kuno. Kejadian yang begitu kebetulan, sungguh jarang terjadi. Melalui salah seorang pelayan kedai tersebut, Sie Han Li mendapat tahu nama si pelukis yang tinggal di pinggir kota Peking. Dari keterangan pelukis itulah akhirnya Sie Han Li mendapat tahu gambar pemandangan itu adalah gambar yang melukiskan puncak gunung Ko-San. Begitu mengetahui gambar yang tertera di peta kuno tersebut adalah gambar pemandangan salah satu puncak gunung Ko-San, tanpa membuang-buang waktu segera melakukan perjalan an ke pegunungan Ko-San. Sejauh ini dirinya berhasil menyimpan rapat-rapat rahasia tersebut namun akibat sedikit keteledorannya, rahasia tersebut berhasil diketahui orang. Dalam perjalanan menuju puncak gunung Ko-San, pada suatu hari yang cerah ketika matahari bersinar terang dan burung-burung berkicauan di antara pepohonan yang rimbun, di pinggir jalan setapak di tepi hutan, Sie Han Li beristirahat sejenak melepaskan lelah. Dia duduk di bawah pohon yang rimbun dengan semilir angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya yang masih belum hilang kanak-kanaknya dengan lembut. Sie Han Li diam beberapa saat menikmatinya, matanya menyusuri jalan setapak yang saat itu lenggang, hanya suara desir angin menyapu indah berbaur debu. Merasa nyaman, Sie Han Li untuk ke sekian kalinya mengeluarkan peta kuno dari saku bajunya. Entah berapa puluh kali ia mengamati secarik kain berisikan gambar peta yang melukiskan pemandangan puncak gunung Ko-San tersebut. Setiap kali melihatnya, semakin bingung dirinya. Di samping tidak mengerti sedikitpun huruf-huruf yang tertulis di peta, jalan-jalan yang digambarkan membuatnya bingung juga. Ingin sekali secepatnya tiba di puncak gunung Ko-San, petunjuk jalan di peta ini lebih dapat dimengerti, gumamnya sambil mengamati peta tersebut. Begitu tengelamnya ia dalam lamunan sehingga derap kaki kuda yang lamat-lamat terdengar di kejauhan tak didengarnya. Derap kaki kuda itu semakin mendekat, tahu-tahu dari ujung belokan di depan jalan setapak itu muncul seekor kuda dengan irama teratur menghentakkan Sie Han Li dari lamunannya. Buru-buru ia memasukkan tangannya yang memegang peta kuno itu ke dalam saku. Namun kelihatannya sudah terlambat, si penunggang kuda itu adalah seorang pria berusia seikitar empat puluh tahunan dengan wajah berewok dan sinar mata yang tajam, menyiratkan kecerdikan dan kekejaman sekaligus. "Bocah muda, benda apa yang engkau pegang di tanganmu itu, coba kemarikan untuk kulihat" perintah si penunggang kuda dengan suara yang menggelegar. Melihat yang datang adalah seorang pria yang gelagatnya tidak mempunyai niat baik terhadapnya, dengan cerdik Sie Han Li berlagak seperti orang desa. "Maaf Tuan, benda itu bukan barang berharga, hanya sebuah sapu tangan pemberian ibuku" jawab Sie Han Li berlagak ketakutan. Sebenarnya pria di atas tunggangan itu adalah seorang kepala perampok yang kebetulan lewat, dalam perjalanan menemui gerombolannya yang bermarkas di sebelah dalam hutan. Dia bernama Coa Kiu dan biasa di panggil tai-ong oleh para pengikutnya. Gerombolan pimpinan Coa Kiu ini sangat terkenal dan ditakuti para saudagar-saudagar, hartawan, yang melintasi daerah ini. Pihak pemerintah sendiri sudah berulangkali berusaha menumpas gerombolan perampok ini dibantu oleh pendekar-pendekar silat setempat. Namun sejauh ini tidak berhasil, bahkan banyak korban yang berjatuhan baik para prajurit pemerintahan maupun para pendekar setempat. Kelihaian ilmu silat Coa Kiu termasuk kelas satu hingga tidak heran para prajurit dan pendekar setempat kewalahan menghadapinya. Selama belasan tahun ini, gerombolannya malang melintang tanpa tandingan. Di samping ilmu silat yang tinggi, Coa Kiu sendiri memiliki hubungan yang baik dengan sesama kalangan hitam di dunia persilatan dan kalangan pejabat pemerintahan yang korup. Ia tidak segan-segan memberikan hadiah-hadiah mahal buat para sahabatnya itu. Di samping itu, Coa Kiu sendiri tidak mau terlalu gegabah dalam bertindak. Ia tidak pernah menganggu kaum kangouw yang kebetulan melintas, para pejabat pemerintahan dan perusahaan piuwkiok perusahaan pengantar barang yang telah memberi upeti. Kepura-puranan Sie Han Li yang baru terjun di sungai telaga tentu saja tidak dapat mengelabui Coa Kiu yang berpengalaman puluhan tahun. "Ha..ha..ha..bocah tengik, engkau tidak usah berpura-pura bodoh. Sebaiknya segera engkau keluarkan barang yang ada disaku bajumu itu, apabila benda itu cukup berharga buatku, engkau akan akan kubiarkan engkau berlalu dari sini, tapi kalau tidak hmmm tahu sendiri akibatnya" Raut wajah Sie Han Li berubah cepat dari ketolol-tololan menjadi biasa kembali bahkan terbayang keangkuhan yang tinggi tanda ia tidak sudi dihina orang. "Kalau aku tidak mau menyerahkannya bagaimana?" tantangnya "Sungguh bocah yang berani tapi kali ini engkau terbentur ditanganku, jangan harap engkau lolos!" seru Coa Kiu sambil melompat turun dari kuda tunggangannya. Gerakannya sangat lincah dan mantap. Sie Han Li sendiri berdiri dengan tenang menanti serangan lawan. Tanpa basa-basi begitu kedua kakinya hinggap di atas tanah, Coa Kiu langsung mencabut golok yang berada di punggungnya, menyambar ke arah Sie Han Li dengan hebatnya. Biarpun kelihatannya Coa Kiu menganggap remeh Sie Han Li namun dirinya tetap berhati-hati. Sikap hati-hati ini sudah terbukti berulangkali menyelamatkannya dari beberapa peristiwa selama berkecimpung di sungai telaga. Dengan gerakan yang tenang Sie Han Li memutar tubuh menghindari sabetan golok lawan. Melihat serangan pertamanya gagal, Coa Kiu menyusuli dengan jurus ke dua, ketiga dan seterusnya namun sejauh ini Sei Han Li berhasil mengelak dari serangan goloknya. Dengan mengereng murka, Coa Kiu memainkan golok semakin menghebat, melancarkan serangan-serangan maut. Ilmu golok yang dimainkan merupakan ilmu kebanggaannya, hasil petunjuk seorang tokoh hitam angkatan tua yang terkenal. Pertempuran itu semakin hebat, terjangan Coa Kiu membuat Sie Han Li sedikit kewalahan. Ini adalah pertempuran pertamanya sejak turun gunung hingga tidak heran hatinya rada gugup, terlebih lawannya ini tidak boleh di anggap enteng. Sebenarnya ilmu silat yang dipelajarinya selama ini mampu untuk menghadapi lawan setingkat Coa Kiu ini tapi karena hatinya goyah, Sie Han Li menjadi keteteran dan tertekan lawan. Coa Kiu sendiri tidak kalah kagetnya melihat seorang pemuda yang belum hilang bau pupuknya ini mempunyai ilmu silat yang mengejutkan. Memang gerakan-gerakannya masih sedikit kaku tapi jurus-jurus yang dimainkan Sie Han Li sungguh lihai, mampu mengimbangi jurus-jurus golok kebanggaannya. Puluhan jurus kembali berlalu, gerakan Sie Han Li semakin lancar. Melihat dirinya masih mampu bertahun sejauh ini, hatinya semakin mantap dan otomatis jurus-jurus yang dimainkannya semakin mantap. Di lain pihak, dari kaget Coa Kiu menjadi semakin murka, mau ditaruh kemana mukanya apabila anak buahnya menyaksikan dirinya tidak dapat merobohkan seorang pemuda tanggung. Diam-diam dirinya meulai mempersiapakn jurus-jurus simpanan yang biasanya hanya ia keluarkan apabila dalam keadaan terdesak atau menghadapi lawan yang tangguh. Tiba-tiba goloknya berubah menjadi gulungan-gulungan sinar, mengurung seluruh tubuh Sie Han Li dengan mengeluarkan angin yang menderu-deru. Melihatan perubahan ilmu golok lawan bagaikan angin badai menerjang ke arah dirinya, hati Sie Han Li tercekat dan gugup. Belum pernah dirinya mengalami kejadian seperti ini, seolah-olah dari segala penjuru, beberapa puluh batang golok mengincar setiap titik-titik mematikan di tubuhnya. Dengan terburu-buru Si Han Li berusaha menghindar ke sana kemari namun ujung golok Coi Kiu seolah mempunyai mata, terus mengincar tubuh lawan. Situasi berubah dengan cepat, keadaan Sie Han Li bagaikan perahu di lautan luas yang diterjang badai ombak dari segala arah. Sambil bersuit keras Sie Han Li berusaha keluar dari kurungan golok lawan, gerakan tubuhnya berubah menjadi bayangan, berkelabat ke sana kemari, semakin lama semakin cepat, bayangan tubuhnya terlihat kabur. Namun dalam suatu kesempatan, ujung golok Coa Kiu gagal diantisipasi Sie Han Li. Sekonyong-konyong Sie Han Li merasakan bahu kirinya sakit tak terperikan, cocoran darah segar segera mengalir dengan deras dari bahunya. Melihat goloknya berhasil menembus bahu lawan, Coa Kiu semakin bersemangat. Dengan beringas goloknya menyambar-nyambar mencari sasaran baru. Gerakan tubuh Sie Han Li sendiri sedikit sempoyongan, darah segar yang terus mengalir dari balik bahu, membuat dirinya sedikit lemas. Sambil mengigiit ujung bibirnya keras-keras, Sie Han Li berusaha bertahan bagaikan seekor kijang yang dikejar harimau buas. Situasinya benar-benar berbahaya bagi jiwa Sie Han Li, setiap waktu tubuhnya yang mulai melemah rentan ditembus ujung golok Coa Kiu. Suatu ketika, ujung golok Coa Kiu kembali berhasil menggores lengan kanan lawan dan membuat gerakan Sie Han Li semakin lemah. Di saat yang benar-benar berbahaya tersebut, tiba-tiba selapis sinar kecil berwarna kehijau-hijauan menyelak diantara gulungan sinar golok yang mengurung tubuh Sie Han Li, langsung mengancam mata kiri Coa Kiu. Coa Kiu sendiri yang gembira melihat sebentar lagi dapat merobohkan lawan, terkesiap melihat secersik senjata rahasia menyambar ke arah matanya. Dengan tergopoh-gopoh ia menarik goloknya dan mundur kebelakang beberapa tindak. Untung berkat kesigapannya, am-gi yang menyambar datang dengan kecepatan kilat tersebut dapat dihindarinya, lewat beberapa dim di samping kepalanya. Hatinya semakin tercekat ketika mengetahui senjata rahasi yang menyambar tadi adalah hanya selembar daun saja. Dari arah sebelah timur dari balik rerimbunan pohon nampak muncul dua sosok tubuh. Sosok pertama adalah seorang nenek tua berjalan mendekat sambil mememegang tongkat, jalannya sedikit terseok-seok tanda usia tua mulai mempengaruhi tubuhnya yang ringkih. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, raut wajahnya berkeriput namun masih nampak garis-garis kecantikan di masa muda. Di sebelah nenek tua itu, berjalan seorang gadis remaja berusia belasan tahun, mungkin sekitar tiga belas tahunan. Wajahnya cantik, putih segar dengan sepasang alis yang lentik dan sinar mata yang jernih. Dapat dipastikan beberapa tahun lagi, gadis remaja ini akan menjelma menjadi dara muda yang memiliki kecantikan yang sangat sempurna. Gerak-geriknya lincah, sambil memegang tangan si nenek, gadis tersebut mengamati ke sekelilingnya dengan pandangan yang riang gembira bagaikan seekor burung yang baru lepas dari sangkarnya. "Siapa yang melepaskan am-gi tadi, berani sekali mencampuri urusanku!" bentak Coa Kiu sambil memandang ke arah si nenek tau dan si gadis remaja. "Siau Yi Yi kecil, coba engkau bereskan orang yang teriak-teriak tadi, kupingku rasanya pekak mendengarnya." "Baik Nek!" jawab gadis kecil yang dipanggil Siau Yi ini. Dengan ilmu meringankan tubuh yang sangat lincah bagaikan seekor kupu-kupu kecil, tubuhnya yang ramping melayang ke arah Coa Kiu. Kecepatannya sungguh sangat mengagumkan, tahu-tahu dalam waktu sepersekian detik tiba dihadapan Coa Kiu, tanganya yang langsing lansung menyambar ke arah wajah Coa Kiu. Coa Kiu sendiri hanya melihat sekelabatan bayangan kecil yang tak dapat diikuti dengan matanya yang tajam, tahu-tahu mukanya yang berewokan merasakan tamparan yang membuatnya terhuyung-huyung ke belakang beberapa tindak. Belum sempat bereaksi, kembali datang serangan ke arah mukanya. Kali ini Coa Kiu berusaha menghindar namun tetap saja terlambat. Ia hanya merasakan wajahnya sangat sakit terutama di bagian sekitar berewoknya. Ternyata gadis kecil ini masih belum hilang sifat kekanak-kanakannya, melihat janggut yang demikian lebat di wajah Coa Kiu, dirinya merasa geli sendiri hingga dengan reflek ia mencabut bulu-bulu tersebut. Sambil mengereng murka, Coa Kiu mengayunkan goloknya ke arah si gadis kecil itu. Serangan yang dilakukannya ini sungguh merupakan serangan mengadu jiwa. Hal ini dapat dimaklumi, berewoknya ini merupakan kebanggaan Coa Kiu dan sekarang hanya dalam satu dua gebrakan saja, dirinya dipercundangi lawan yang masih bau pupuk, di tampar dan di cabut berewoknya. Muka Coa Kiu sekarang sungguh menyeramkan, dengan mata melotot dan tetesan darah kecil keluar dari pori-pori wajahnya. Namun kali ini Coa Kiu ketemu batunya, tak peduli segala macam serangan maut yang dilancarkannya, tak berhasil menyentuh seujung kain baju Siau Yi. Bahkan dengan gerakan yang sangat aneh, Siau Yi kembali berhasil menampar wajah Coa Kiu hingga mukanya semakin bengap. "Siau Yi, jangan main-main lagi. Segera bereskan penjahat itu!" seru si nenek dengan suara parau, lalu terbatuk-batuk tanpa henti." Mendengar perintah neneknya itu, Siau Yi memperhebat gerakannya. Sie Han Li sendiri yang menyaksikan pertandingan tersebut sampai ternganga kagum. Selama hidupnya belum pernah ia melihat demonstrasi ilmu silat yang sedemikian lihainya. Dia sendiripun harus berjuang keras melawan Coa Kiu namun seorang gadis kecil mampu mempermainkan Coa Kiu sedemikian rupa seolah-olah Coa Kiu bukan merupakan lawan setimpal. Tak makan waktu lama Coa Kiu harus mengakui kelihaian Siau Yi, tubuhnya yang tegap sudah beberapa kali kena hajar. Sadar akan bahaya yang akan menimpanya apabila terus nekat melawan si gadis kecil ini, dengan menekan rasa malunya Coa Kiu berniat melarikan diri. Dengan pengalamnnya bertemmpur, pada saat yang tepat tiba-tiba Coa Kui membentak dan mengerahkan seluruh kemampuannya segera berputar cepat sekali untuk menangkis pukulan si gadis. Tentu saja dengan gerakan nekat itu si gadis tak mau rugi, sehingga sedikit mengendorkan serangannya. Melihat ini, si kepala rampok mencelat kebelakang dan melompat hendak melarikan diri. Namun tiba-tiba saja berkelebat si titik bayangan hitam segera menempus batok kepalanya, seketika itu juga Coa Kiu terjerembab ke tanah di depannya, tubuhnya berkelejotan sesaat kemudian terdiam untuk selamanya. Rupanya kepalanya sudah terlubangi oleh batu kerikil sebesar kelereng yang dilemparkan si nenek sakti itu. "Siau Yi, kenapa kau biarkan penjahat itu kabur?" "Aku... aku.... hanya..." Gagap si gadis ditanya seperti itu. "Sudahlah kau memang belum banyak pengalaman" Si nenek kemudian bergerak perlahan menghampiri Sie Han Li, yang sedari tadi terbengong-bengong menyaksikan pertempuran yang berlangsung cepat itu. "Siapa namamu... untuk apa kau datang kemari?" si nenek bertanya dengan nada ketus, kelihatannya dia memandang rendah sekali kepada pemuda itu. "Cahye bermarga Sie bernama Han Li, dan sedang dalam perjalanan kebetulan lewat kemari, lalu kemudian hendak dirampok oleh penjahat tadi. Untung bertemu dengan Lo Cianpwe yang mulia hingga penjahat tersebut dapat dikalahkan oleh adik kecil yang lihai itu" Jawab Han Li dengan nada yang cukup sopan dan sedikit menyanjung, meskipun dia tidak dipandang sebelah mata oleh si nenek. Han Li cukup cerdik dengan tidak memberikan keterangan yang sebenarnya. Karena jika si nenek tahu bahwa dia membawa peta kuno berisi rahasia ilmu silat mandraguna, bukan tidak mungkin ikut mengkangkanginya juga. Mendengar ucapan yang menyanjung itu, sedikitpun si nenek tak terlihat senang, malah kemudian berucap. "Siau Yi, sekalian bereskan juga pemuda itu" "Ta... Tapi kelihatannya dia bukan orang jahat popo" "Oh... jadi kau sudah mulai bisa membantah popo yah!" si nenek yang dipanggil popo itu berkata dengan bengis. "Mak... maksudku bukan begitu popo...hmmm... bagaimana bila kita bawa pulang saja untuk dijadikan kacung" desak si gadis itu. Berpikir sebentar kemudian si popo berkata "Terserahlah... cepat bekuk dulu pemuda itu" "Baik popo" sigadis mengiyakan. sambil terus meloncat menghampiri Han Li. "Ikutlah bersama kami pulang... jangan melawan" Melihat ini Han Li bermaksud untuk melarikan diri, mana mau dia ditangkap. Tujuannya kemari untuk mengambil pusaka yang tercantum dalam peta kuno, bukan untuk menjadi kacung segala. Karena tidak bermaksud untuk melukai Han Li, gadis itu beserta si nenek yang melangkah dibelakangnya hanya mengurung saja dan membiarkan pemuda itu mendaki puncak dan mencapai jalan buntu. Tak berapa lama kemudian benar saja Han Li terdesak ke jalan buntu, disisi kanan kirinya terdapat tebing yang tinggi sekali, mustahil untuk di panjat naik, dibelakangnya terdapat jurang yang mengalirkan air terjun yang deras sekali. Terdengar bergemuruh keras sekali. "Sudahlah, lebih baik kau menyerah saja, tak ada jalan lain lagi untuk meloloskan diri" kata si gadis sambil tersenyum manis. Melihat si gadis tak berniat untuk mencelakainya, dia mulai memberanikan diri untuk bernegosiasi. "Jangan mendekat... atau aku akan melompat" "Eh.. tunggu.. tunggu.. kenapa kau ingin melompat.. apakah lebih baik mati daripada ikut dengan kami?" "Lelaki sejati boleh dibunuh tapi pantang di hina" jawab Han Li dengan tegas. Mendengar ucapan "Lelaki Sejati" itu tiba-tiba wajah si nenek berubah bengis sekali, dan seketika itu juga melontarkan pukulan jarak jauh pada tubuh Han Li. Tentu saja Han Li terbanting jatuh kebawah jurang tanpa mampu berteriak sedikitpun sambil membawa luka yang cukup serius. - demonking-

cerita silat mandarin pendekar matahari